Aktivis dan Kekuasaan

Oleh : Wahyono

Kehadiran kaum cerdik cendikia dalam sebuah fase kehidupan, kiprahnya sangat ditunggu dan diharapkan oleh kelompok mayoritas yang diam. Kiprah mereka diharapkan mampu mengkritisi apa-apa yang tidak semestinya dan harus dilakukan oleh pemerintah. Tanpa adanya kritik dari kaum cerdik cendikia bisa membuat pemerintah menjadi kekuasaan yang otoriter, berlaku sewenang-wenang dalam menjalankan perintahnya.

Kaum cerdik cendikia itu diantaranya berasal dari kalangan mahasiswa. Peran mereka dalam setiap fase kehidupan, membuat kelompok itu menjadi istimewa di mata masyarakat. Mereka dianggap sebagai orang-orang mulia, dihormati, digugu dan ditiru. Masyarakat selalu berharap agar mereka selalu bersama dengannya untuk mendampingi dan memperjuangkan nasib hidupnya.

Namun kita harus menyadari bahwa kaum cerdik cendikia itu juga hidup di tengah masyarakat dan mereka juga manusia. Hal inilah yang membuat mereka sering bergesekan dan bertabrakan dengan godaan dan kepentingan kekuasaan.

Sifat manusia yang ingin hidup lebih makmur dan terjamin kesejahteraannya itulah yang membuat mereka kadang tak kuasa menahan godaan bila ditawari sebuah kekuasaan. Meski juga ada idealisme bahwa kekuasaan harus direbut dan dengan kekuasaan itulah untuk merealisasikan apa yang dicitacitakan. Kaum cerdik cendikia terperangkap masuk dalam kekuasaan atau mereka memang mempunyai tujuan ke sana.

Contohnya pada masa Orde Baru Salah satu orang yang kecewa dengan banyaknya aktivis yang masuk dalam kekuasaan adalah Soe Hok Gie. Ia menuliskan kekecewaannya itu dalam sebuah catatan hariannya yang selanjutnya menjadi sebuah buku Catatan Seorang Demonstran.

Di sinilah catatan dan renungan bila kita ingin menjadi aktivis. Apakah kita ingin menjadi aktivis 100 persen yang selalu mengkritisi kekuasaan dan tak mau masuk dalam kekuasaan atau aktivis yang mempunyai syahwat terhadap kekuasaan.

Bila kita menjadi aktivis 100 persen, berbahagialah sebab sejarah akan tetap mencatat kita sebagai sosok yang konsisten. Namun bila kita menjadi aktivis yang mempunyai syahwat kekuasaan, sejarah akan mencatat kita tak ubahnya dengan politisi bahkan lebih buruk sebab sebelumnya kita selalu menggembargemborkan perjuangan idealisme.

Retorika dan Kemunduran Ilmu Pengetahuan Dalam Kacamata Bung Hatta

Oleh : B. Wahyono Alfatih

Gambar : Bung Hatta dan Buku

Secara garis besar retorika adalah sebuah teknik pembujuk –rayuan secara persuasi untuk menghasilkan bujukan melalui karakter pembicara, emosional atau argument. Jadi, Secara umum retorika ialah seni manipulatif atau teknik persuasi politik bersifat transaksional dengan menggunakan lambang untuk mengidentifikasi pembicara dengan pendengar melalui pidato.

Dalam perkembangannya retorika dibawa oleh kaum sofis dan mulai muncul di Atena sehingga membawa perubahan pola pikir ditengah kaum Grik terutama dibawah kepemimpian Perikles. Pada awalnya kata sofis ditujukan kepada orang yang pandai dan ahli baik dalam segi bahasa, filsafat, politik dan lain-lain. Karena kepandaian dan kebijaksanaannya orang tersebut dinamai sofis.

Tetapi seiring berjalannya waktu kata sofis berubah makna yaitu menjadi gelar bagi tiap orang yang pandai memutar lidah , memainkan dan bersilat dengan kata-kata. Pada akhirnya dari nama pujian “sofis” menjadi nama ejekan.

Atas pengaruh sofisme tadi, demokrasi dibawah kepemimpinan perikles (461-429 s.M) yang semulanya berjalan dengan baik sekejap berubah menjadi anarkis. yang sebelumnya, dalam kepemimpinan Prickles rakyat menjadi makmur, perniagaan, seni, arsitektur dan literatur menjadi maju sehingga pada saat itu disebut dan dikenal dengan zaman keemasan Atena.

Karena kemajuan yang dicapai oleh Atena banyak orang-oarang pandai yang datang dengan membawa buah pengetahuannya untuk mencari kemakmuran hidup, mereka adalah guru-guru sofisme. Meskipun sebagian dari mereka berpengetahuan luas dan serba kecekupan, tetapi kedatangannya ke Atena bukan bermaksud untuk mengajarkan ilmu pengetahuan melainkan menjualnya. Ilmu yang dijual oleh guru-guru sofis merupakan ajaran yang mengaharuskan seseorang untuk pandai dalam berpidato, yaitu retorika..! Menurut Bung Hatta, retorika itulah awal dan akhir ajaran sofistik.

Retorika jadi alat pembela kebenaran yang dikemukakan. Oleh karena kebenaran yang sebenarnya tidak tercapai, maka tiap-tiap pendirian dibenarkan dengan memikat perhatian orang banyak. Kalau orang banyak mengakuinya maka itu sudah menjadi benar. Bukan meyakinkan orang lain jadi tujuan, melainkan menundukkan orang dengan gaya bahasa. Oleh karena itu keyakinan hilang dan akhirnya zaman kebesaran peradaban Atena berakhir dengan kelenyapan paham.

Bagi guru-guru sofis, orang tidak mesti memiliki dasar kepandaian, dan jika mereka ingin berpengaruh serta mencapai cita-citanya cukup mereka belajar berpidato dan pelajarilah ilmu retorika. Seketika ilmu retorika yang dibawa oleh kaum sofis berkembang luas dan laku ditengah masyarakata Atena. Dan bagi siapapun akan merasa mendapat sebuah kehormatan apabila ia pernah berguru kepada seorang sofis.

Pada saat itu setiap orang memiliki cita-cita yang beragam, dan jika mereka ingin mencapai cita-citanya tersebut mereka cukup datang ke guru sofis, asalkan mereka mampu membayar. Oleh karenanya, kebenaran umum ditiadakan, maka diganti dengan retorika.

Kepiawaian bersilat lidah dan buaian kata sangat diutamakan agar mampu meningkatkan citra diri demi mendapatkan pengakuan dari orang lain. Dan kebenaranpun ditentukan oleh seberapa banyak yang orang memihaknya. Maka distulah memerlukan sebuah ketangkasan dan kepintaran dalam berpidato. Tentu saja bukan kebenaran yang terkandung dalam tiap kata ketika penyapaian pidato yang diutamakan, melainkan tarikannya menjadi tujuan utama, agar mampu menarik massa.

Imbasnya setiap orang selalu merasa paling benar sendiri sehingga tumbuhlah sifat individualisme. Kehancuran Atena karena dipengaruhi oleh cara pengajaran yang salah oleh kaum sofis, sehingga demokrasi di Atena menjadi anarkis dan masyarakat tidak memiliki sikap yang memegang aturan. puncaknya ketika terciptanya perang saudara antara Atena dengan Sparta yang begitu lama, yaitu pada tahun 431-404 sebelum masehi.

Gerakan Mahasiswa Dalam Menghadapi Musim Politik

Hadirny gerakan mahasiswa merupakan bagian dari sejarah pergolakan politik yang sudah berlangsung lama. Baik sebelum kemerdekaan maupun setelah kemerdekaan.

Diantaranya tercatat beberapa gerakan yang dilakukan oleh mahasiswa dalam menorehkan tinta perjuangan terhadap bangsa Indonesia. Seperti lahirnya Organisasi Boedi Utomo (1908), Sumpah Pemuda (1928), Malari (1974) dan puncaknya ketika tumbangnya rezim Orde Baru (1998).

Peran mahasiswa dalam peta politik bangsa Indonesia adalah sesuatu yang fundamental.

Dalam momentum pesta demokrasi akhir-akhir ini ada semacam gerakan yang tidak lazim yang dilakun oleh beberapa kelompok aktivis kemahasiswaan. Dimana status para intelektual tersebut dimanfaatkan dan dijadikan mesin politik praktis oleh para elite maupun penguasa dalam proses memobilisasi massa. Dengan kata lain, menjadi tim sukses.

Jika secara empiris, gerakan mahasiswa dalam mengubah peta politik haruslah independent serta memiliki tanggung jawab moral dalam artian tidak bersentuhan dengan kepentingan politik yang dimainkan oleh para aktor diluar daripada rel-rel gerakan mahasiswa itu sendiri.

Pergerakan mahasiswa dituntu agar mampu menunjukan kadar intelektual dengan alternatif yang solutif atas berbagai permasalahan yang terjadi terhadap bangsa ini.

Jika gerakan mahasiswa menjadi gerakan politik kekuasaan maka gerakan tersebu akan kehilangan fungsi kontrolnya.

#BW_Alfatih

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai